Minggu, 06 November 2016 13:48 WIB

Pascademo Rusuh 4 November, Jokowi Menelepon PM Australia

 Pascademo Rusuh 4 November, Jokowi Menelepon PM Australia
Presiden Jokowi bersama PM Australia

CANBERRA - Demonstrasi 4 November untuk memprotes dugaan penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama awalnya berjalan damai dan tertib.

Perwakilan demonstran diterima Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah pejabat penting. Pemerintah berjanji menuntaskan proses hukum terkait laporan dugaan penistaan sesuai aturan dan dalam waktu singkat, yaitu dua pekan. Massa pun diminta membubarkan diri setelah pukul 18.00 sesuai aturan demonstrasi.

Namun, situasi berubah rusuh pada malam hari.

Sebagian massa yang tak mau membubarkan diri terlibat bentrok dengan aparat, kemudian melempari polisi menggunakan batu dan botol, sejumlah kendaraan dibakar. Pasukan pengaman pun mengerahkan gas air mata dan meriam air (water cannon) untuk menghalau demonstran.

Rusuh yang awalnya terjadi di sekitar lokasi demonstrasi menyebar ke sejumlah lokasi di Jakarta. Sebuah minimarket di Penjaringan dirusak dan dijarah. Selain itu, bentrok juga terjadi di Luar Batang.

Gedung DPR pun dikepung massa. Pengujung malam, Jumat, 4 November 2016 terasa mencekam bagi warga Ibu Kota.  

Salah satu dampak dari rusuh tersebut, Presiden Joko Widodo menunda kunjungannya ke Australia.

Jokowi dijadwalkan mendarat di Negeri Kanguru besok dalam kunjungan tiga hari di Sydney dan Canberra, di mana presiden rencananya akan duduk bersama dengan Parlemen Federal.

Namun, perkembangan terakhir membuat Presiden Jokowi memilih tinggal di Jakarta.

Seperti dikutip dari ABC Australia, Sabtu (5/11/2016), Presiden Jokowi secara pribadi menelepon PM Australia Malcolm Turnbull untuk memberitahukan soal penundaan kunjungannya.

Jokowi juga meminta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk mendiskusikan penjadwalan ulang kunjungannya ke Australia dalam waktu dekat.

PM Turnbull mengonfirmasi bahwa Presiden Jokowi telah menghubunginya, untuk memberitahukan bahwa kunjungan yang telah direncanakan terpaksa dijadwalkan ulang karena situasi keamanan di Jakarta.

"Saya sungguh menyesalkan karena tak bisa menyambut beliau di Australia besok. Namun, saya sepenuhnya bisa memahami kebutuhannya untuk tetap berada di Indonesia saat ini," kata PM Turnbull dalam pernyataannya.

Ia menambahkan, kedua pemimpin menyayangkan bahwa kunjungan yang telah direncanakan, tak bisa terwujud.

"Meski menyesalkan, kami sepakat penundaan tidak akan mempengaruhi kebutuhan  untuk melanjutkan dan meningkatkan kerja sama di berbagai hal yang menjadi kepentingan dan tantangan bersama, termasuk terkait ancaman terorisme ke wilayah kami."

Seperti halnya dengan demonstrasi di Jakarta yang berakhir tak sesuai dengan yang diharapkan, penundaan kunjungan Jokowi ke Australia juga diberitakan banyak media internasional.

Apalagi, sebelumnya dikabarkan, Indonesia dan China berencana melakukan patroli bersama di wilayah Laut China Selatan.

Liputan6

Pascademo | Rusuh | 4 | November, |

Copyright @2015