Advertorial
Sabtu, 07 Januari 2017 18:46 WIB

Zola : Budaya Dan Adat-Istiadat Yang Kuat Topang Jati Diri Bangsa

 Zola : Budaya Dan Adat-Istiadat Yang Kuat Topang Jati Diri Bangsa
Pembukaan Malam Apresiasi Seni Melayu Jambi

KOTAJAMBI(SR28/ADV) - Gubernur Jambi, H.Zumi Zola, S.TP, MA, mengemukakan bahwa budaya dan adat-istiadat yang kuat turut menopang jati diri bangsa. Hal tersebut disampaikan oleh Zola dalam Pembukaan Malam Apresiasi Seni Melayu Jambi, Simfoni Anak Negeri, bertempat di Ratu Convention Center, Kota Jambi, Jumat (6/1) malam.

Selain sebagai salah satu upaya untuk melestarikan seni budaya Melayu Provinsi Jambi, acara tersebut juga dimaksudkan sebagai rangkaian kegiatan dalam Peringatan Ulang Tahun ke-60 Provinsi Jambi, Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki jati diri yang kuat, salah satu elemen jati diri adalah budaya dan adat-istiadat yang kuat. Contohnya Jepang, sempat luluh lantak dibom, bangkit dari kondisi luluh lantak tersebut, bahkan menjadi salah satu Negara dengan ekonomi termaju didunia, tetapi tetap mempertahankan budaya, seperti Kimono dan Samurai," ungkap Zola.

Zola mengatakan, Negara Indonesia dan Provinsi Jambi juga memiliki kekhasan budaya dan seni, yang sarat nilai dan makna, dan jika dilestarikan dengan sebaik-baiknya, akan membawa manfaat, dan turut menopang jati diri daerah dan Negara.

Kemajuan teknologi, lanjut Zola, sudah sangat mempengaruhi kehidupan manusia sembari mengingatkan agar jangan sampai seni budaya tradisional tergerus dan hilang ditengah zaman dengan kecanggihan teknologi.

"Kemajuan teknologi itu punya dua dampak, dampak positif dan dampak negatif, kita harus bijak melihat ini, jangan sampai nilai-nilai positif dari para tua-tua kita hilang karena tidak dilestarikan dengan baik," tegas Zola.

Untuk itu, Zola mengusulkan agar dalam pendidikan dijenjang SD, SMP, SMA, dan SMK harus ada mata pelajaran Kearifan Lokal. Zola mencontohkan, salah satu budaya Jambi adalah Tengkuluk, kain penutup kepala khas Jambi yang dikenakan oleh kaum hawa.

Dikatakan oleh Zola, kelestarian seni budaya merupakan tantangan, terutama bagi generasi muda dan para pelaku seni.

Zola menghimbau Bupati dan Walikota se Provinsi Jambi untuk berupaya semaksimal mungkin melestarikan budaya daerah masing-masing.

Zola mengungkapkan, acara Apresiasi Seni Budaya Melayu Jambi sangat bagus, dan dia mendukung agar acara dilakukan pada setiap peringatan ulang tahun Provinsi Jambi.

"Tahun depan, harus ada terobosan ide, sesuatu yang baru yang belum yang dilakukan, untuk ditampilkan, supaya acaranya semakin bagus dan punya daya tarik yang lebih baik lagi," tutur Zola.

Pada kesempatan tersebut, Zola memberikan Anugerah Penghargaan Seni kepada 2 orang Sesepuh Tokoh Seni Provinsi Jambi, yakni kepada Zulfahmi Ismail, pencipta lagu-lagu daerah Jambi dan Mariam, pelestari ‘Bajolo’, seni berpantun Melayu Jambi.

Zola juga menyerahkan sertifikat Budaya Tak Benda kepada Bupati Kerinci, Walikota Sungai Penuh, Penjabat Bupati Sarolangun, Cek Rusli, penerus Keturunan Musik Kromong Mandiangin, dan Bupati Bungo, yakni sertifikat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atas Budaya Tak Benda dari daerah tersebut.

Sebelumnya, Ketua Panitia, Kepala Taman Budaya Jambi, Dr.Sri Purnama Syam,SST,M.Sn, menyampaikan, inti dari acara Malam Apresiasi Seni Melayu Jambi adalah memberikan apresiasi dengan sepenuh hati terhadap kekayaan seni budaya Provinsi Jambi.

Sri Purnama Syam menyatakan, pada tahun 2016, 6 karya budaya Jambi memperoleh Sertifikat Budaya Tak Benda dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dan total mulai tahun 2013 sampai tahun 2016 meraih 18 Sertifikat Budaya Tak Benda, terbanyak kedua se Indonesia, suatu prestasi yang sangat membanggakan bagi Provinsi Jambi.

Sri Purnama Syam menegaskan bahwa sertifikat budaya tak benda merupakan pengakuan secara resmi yang juga berpengaruh positif terhadap pelestarian budaya.

"(Dalam pelestarian budaya) Kita berpacu dengan waktu, berpacu dengan hari, karena seni tradisi terancam punah," ungkap Sri Purnama Syam.

Dikatakan oleh Sri Purnama Syam, Upacara Besale dari Suku Anak Dalam (SAD) sudah masuk daftar tunggu di UNESCO.

Kepala Taman Budaya Jambi ini mengungkapkan bahwa dia dan jajaran dan seluruh pihak terkait telah menyiapkan 15 lagi untuk diajukan memperoleh sertifikat budaya tak benda dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

"Keuntungan jika telah memperoleh sertifikat budaya tak benda, ketika diakui Negara, maka Negara berperan penting dalam penyelamat dan penyeimbang, dan kalau ada masalah seperti klaim dari pihak (Negara) lain, negara yang akan maju," ujar Sri Purnama Syam.

"Contohnya, Musik Kalinong dari Kabupaten Merangin bukan hanya milik Merangin lagi, sudah diakui di Indonesia dan sudah menjadi milik Indonesia," tambah Sri Purnama Syam.

Sri Purnama Syam menyampaikan, acara tersebut didukung 80 orang anak-anak daerah Jambi, dan dia yakin anak-anak Jambi punya kemampuan.

Sri Purnama Syam berharap wisatawan ke Jambi bisa mendapat wisata budaya dan budaya wisata.

"Kita tidak menilai budaya dari sisi bentuk, tetapi dari nilai, makna, dan filosofi," tutur Sri Purnama Syam.

Penampilan tari yang diiringi oleh musik dan lagu daerah Jambi dan Simponi Anak Negeri seperti orkestra, serta penampilan pameran busana motif Jambi karya desainer asli Jambi Deri Dahlan tampil memukau dalam acara tersebut.

Wakil Gubernur Jambi, Dr.Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum, Ketua TP PKK Provinsi Jambi, Hj.Sherrin Tharia Zola, Wakil Ketua TP PKK Provinsi Jambi, Hj.Rahima Fachrori Umar, Pejabat Sekda Provinsi Jambi, H.Erwan Malik beserta istri, Kapolda Jambi, Anggota DPD RI Dapil Jambi, Hj.Uteng, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Syahbandar, beserta para undangan lainnya turut hadir dalam acara tersebut.

 

Cep/Ags

Smadav
Copyright @2015