Jumat, 18 Agustus 2017 12:57 WIB

Kisah Pejuangan Veteran Tionghoa Saat Bertugas Jadi Mata-mata

 Kisah Pejuangan Veteran Tionghoa Saat Bertugas Jadi Mata-mata
Soegeng

SR28JAMBINEWS.COM - Tak ingin dicap asal bicara, veteran keturunan Tionghoa ini pun menunjukkan bukti-bukti keterlibatannya melawan penjajah yang dikumpulkan dalam bendel buku. Dari surat-surat, catatan hingga foto-foto.

Soegeng menceritakan, sejak usia 17 tahun ia mulai terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Saat itu, veteran berpangkat sersan ini bertugas sebagai mata-mata. Tempat tinggalnya yang dekat dengan markas Belanda di Purwokerto inilah yanh membuat Soegeng memudahkan untuk mendapat informasi dari tentara Belanda.

"Kalau ada informasi tentara Belanda akan menyerang daerah tertentu saya langsung menginformasikan kepada anggota lainnya untuk pindah. Karena dengan perlengkapan senjata yang dimiliki Belanda, kita pasti akan kocar kacir," ujar Soegeng.

Saat menyampaikan informasi yang ia dapat, bukan melalui radio atau alat komunikasi lainnya. Namun Soegeng harus berjalan melalui hutan saat malam hari. Biasanya perjalanan ini di tempuh sampai 3 malam.

"Dulu tempat tinggal saya di Purwokerto. Sering saya berjalan ke Pekalongan, Kebumen hingga Banjarnegara untuk menyampaikan informasi," tuturnya.

Meski tidak fasih, tetapi dengan tugas yang ia lakukan sebagai mata-mata tentara Belanda membuatnya bisa beberapa bahasa. Yakni Bahasa Belanda, Indonesia dan Tionghoa.

"Hanya bahasa Belanda yang tidak begitu fasih. Tetapi kalau ada yang berbicara sedikit-sedikit paham," ujar Soegeng.

Di masa saat ini, ia berpesan agar generasi muda untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. Ia juga mengingatkan agat jangan mudah untuk dipecah belah. Apalagi jika melihat perjuangan merebut kemerdekaan yang dilakukan oleh berbagai lapasian masyarakat. "Indonesia tetap kuat jika terus bersatu, untuk itu jangan mudah untuk dipecah belah," pesannya.

Mandi Wajiib

Source: Detik

Kisah | Pejuangan | Veteran | Tionghoa |

Copyright @2015