Rabu, 11 Desember 2013 19:04 WIB

Muslim India Terpaksa Tutupi Identitasnya Demi Dapat Pekerjaan Di Negaranya Sendiri

 Muslim India Terpaksa Tutupi Identitasnya Demi Dapat Pekerjaan di Negaranya Sendiri

Diskriminasi mendera para umat Muslim di India, sehingga membuat mereka dimarjinalkan dan sulit mendapat pekerjaan. Akhirnya, untuk menyambung hidup, mereka terpaksa "menyamar" untuk menutup identitas sebagai muslim. Hal ini dialami oleh banyak pekerja Muslim di India. Salah satunya adalah Ayesha Begum, yang diwawancara dalam sebuah artikel di laman stasiun televisi Al-Jazeera pada Selasa, 10 Desember 2013.

Sebelum berangkat kerja di sebuah rumah sakit, dia melucuti atribut Islamnya, menggantinya dengan gelang merah-putih dan menorehkan serbuk merah di dahinya, seperti kebanyakan wanita Hindu di Kolkata, ibukota Bengal Barat. "Sepanjang hari di rumah sakit, saya mempertahankan penampilan Hindu ini. Semua orang di sana mengenal saya sebagai penganut Hindu dan memanggil saya 'Lakshmi'," kata wanita berusia 30an ini.

Begum bukan satu-satunya. Noorjahan Khatoon, 42, contohnya, satu dari banyak Muslim yang menyamar jadi Hindu untuk dapat kerja. Dia adalah juru masak di rumah keluarga Hindu. "Anak-anakku tidak tahu di koloni mana saya bekerja. Apalagi soal identitas majikan saya. Saya yakin jika majikan tahu saya Muslim. Saya akan dipecat," kata Khatoon.

Menurut Al Jazeera, praktik semacam ini juga biasanya disponsori oleh agen pencari kerja. Sudhin Bose, agen pembantu rumah tangga di Kolkata, mengakuinya. "Hampir seluruh klien saya adalah Hindu dan kebanyakan mereka memilih untuk tidak mempekerjakan Muslim," kata Bose. "Lebih dari setengah pekerja yang ditempatkan agen kami adalah orang Muslim dari desa terdekat dan wilayah kumuh. Seringnya kami perkenalkan mereka sebagai orang Hindu pada klien Hindu, dan mereka mendapatkan pekerjaan itu," lanjutnya lagi.

Pengumuhan
Diskriminasi terhadap umat Islam di India meningkat dalam dua dekade terakhir. Hal ini diakibatkan semakin agresifnya organisasi-organisasi nasionalis Hindu, seperti dituturkan aktivis sosial Ram Puniyani. Puniyani mengatakan, usai kekerasan komunal di Gujarat 2002 lalu yang menewaskan lebih dari 1.000 orang -kebanyakan Muslim- beberapa organisasi Hindu meluncurkan propaganda boikot umat Islam di keseharian.

"Fenomena ini memicu ketakutan di komunitas target. Perasaan tidak aman di antara Muslim ini semakin meningkat seiring desakan ekonomi untuk memenuhi dua keperluan - mata pencaharian dan sosial, memicu pada ghettoisasi (pengumuhan)" kata Puniyani. "Ghettoisasi Muslim di kota seperti Mumbai dan Ahmadabad jelas menunjukkan hilangnya rasa saling  percaya di antara komunitas. Dan peningkatan ekonomi-sosial kaum minoritas mandek," lanjutnya lagi.

Sama dengan Dalit
Sejak tahun 2005 lalu, pemerintah India telah menunjuk Komisi Sachar untuk menyelidiki apakah Muslim didiskriminasi pada bidang sosial, ekonomi dan pendidikan. Hasilnya mengejutkan. Komisi ini menyimpulkan, kondisi Muslim di India sama buruknya dengan orang-orang Dalit, yaitu kasta paling rendah dari dari hirarki kasta Hindu. Ayesha Pervez, aktivis pejuang hak-hak minoritas mengatakan, diskriminasi Muslim juga terjadi di sektor pemerintahan.

"Diskriminasi ini juga ada di sektor pemerintah. Di Bengal Barat, populasi Muslim ada 27 persen. Tapi perwakilan mereka di pekerjaan pemerintah hanya di bawah empat persen. Diskriminasi ini memaksa Muslim menggunakan identitas Hindu palsu. Karena diskriminasi, Muslim tidak bisa meningkatkan standar hidup mereka," kata Ayesha. Warga Muslim di India berharap mereka tidak perlu lagi menyamar untuk mendapatkan kerja. Mereka mengaku tidak nyaman tidak berada di identitas mereka sendiri. "Terkadang saya mereka telah melalukan kesalahan karena memalsukan identitas Hindu, dan merendahkan agama saya sendiri. Saya akan senang jika suatu hari nanti mendapatkan pekerjaan yang bebas dari penyamaran ini," kata Begum.

viva.co.id

Sat

Muslim | India | Terpaksa | Tutupi |

Copyright @2015