Selasa, 03 Juni 2014 02:16 WIB

Korban Perampokan Di Sungai Bahar Masih Alami Trauma

 Korban Perampokan di Sungai Bahar Masih Alami Trauma

MUAROJAMBI(SR28) - Cenli (26) masih belum mau ketemu Ridhon Awaluddin (5). Semenjak kejadian perampokan pada Jum’at (29/05) sekira pukul 01.30 WIB dini hari, warga Desa Panca Mulya RT 01 Unit 3 Sungai Bahar ini masih trauma. Ia tak mau bertemu banyak orang, termasuk juga anak laki-lakinya itu.

Awal mula kejadian perampokan itu, ketika Cenli yang sedang nonton tv, tiba-tiba listrik rumahnya padam. “ Kok mati lampu, padahal yang lainnya hidup,” kata Ika (25) istri korban, saat ditemui di Rumah Sakit DKT, Senin (02/06). Karenanya ia keluar rumah untuk melihat ampere rumahnya. Baru keluar di depan pintu, ada dua orang yang menggunakan tutup muka menodongkan pistol ke arahnya. “Angkat tangan,” kata Ika menirukan perintah perampok.

Karena terkejut, Cenli langsung lari ke arah rumah tetangganya. Tak ayal senpi di tangan perampok itu langsung meletus menyasar dirinya. Cenli tertembak di bagian pantat. Tak hanya itu, melihat Cenli melarikan diri, para perampok justru berambisi untuk membunuhnya. “Bunuh saja,” kata perampok.
Sedikitnya ada enam letusan pistol yang ditembakkan ke arah Cenli, namun ia terus lari dan masuk rumah Suparmin. Kebetulan rumah mertuanya itu tak jauh dari tempat ia tinggal.

Mendengar letusan senapan, Ika yang sedang tidur di kamar bersama Ridhon terbangun dan memanggil suaminya. “Mas,” kata Ika. Namun tak ada jawaban dari suaminya. Ika juga mengira ampere rumahnya meletus. “Pas ada suara dor, itu saya pikir ampere rumah meletus. Tapi pas dengar lagi ada suara letusan pistol lagi, perasaan saya jadi tidak enak,” katanya. Ia juga mendengar suara suaminya yang meminta tolong.

Mendengar ada orang di dalam rumah, para perampok ini pun lantas masuk rumah menuju kamar Ika. Mereka menodongkan pistol di leher ika, sembari meminta uang, dengan nada kasar.” Mana uangnya, mana uangnya,” kata perampok. “ Itu di bawah bantal, ambil semua yang kamu butuhkan, ambil saja,” jawab Ika.
Perampok ini pun langsung mengambil dompet yang ada di bawah bantal, jumlahnya ada sekitar satu juta rupiah. Kata Ika, uang itu hasil jualan makanan ringan di toko miliknya. Bukan hanya itu, perampok ini juga merampas cincin pertuangan Ika dan Cenli. “Cincin saya juga diminta, ada tulisannya Ika dan Cenli,” tutur Ika.

Mendengar keributan di rumahnya, banyak warga yang keluar rumah sembari membawa golok, tombak dan lainnya. Mereka berkumpul di depan rumah Ika, bermaksud menangkap para perampok. Namun mereka tak berani mendekat, kerena diancam dengan pistol. “Jangan mendekat, jangan mendekat,” kata rampok.

Posisinya yang terdesak, para perampok ini lantas menyandra Ridhon. Bocah berusia lima tahun ini dibawa ke kebun sawit di belakang rumahnya. Kata Ika, setiap warga yang keluar rumah ingin menolong, selalu diancam akan ditembak. Melihat anaknya di bawa perampok, Ika pun mengikuti dari belakang. Ridhon, yang digunakan sebagai sandera, juga tak rewel. “Om, Ridhon jangan diapa-apain ya, Ridhon anak pintar,” kata anak TK ini.

Sampai di ujung rumah warga, Ika dan anaknya  dipisah. “Sudah, kami hanya ingin menyelamatkan diri,” kata perampok. Sekitar seperempat jam, anaknya tak juga muncul, ia menghawatirkan anak pertamanya itu . Selang satu jam, sekitar pukul 03.30 subuh, Ridhon terlihat kembali ke rumahnya sendirian. Ia menghampiri Suparmin dan memeluk kakeknya itu. “Ini Ridhon, mbah,” katanya.

Setelah mendapat laopran dari Suparmin, beberapa polisi dari Polsek Sungai Bahar segera mendatangi tempat kejadian. Mereka melihat tempat kejadian perkara untuk mengambil data. AKP Edy Inganta, Kapolsek Sungai Bahar yang ditemui SR28 mengatakan, bahwa kasus perampokan ini masih dalam proses.
“ Kita masih melakukan pengejaran kepada para pelaku,” katanya. Ia juga mengatakan semenjak kejadian itu, pihaknya langsung melakukan pengejaran dibantu anggota dari Polres Muaro Jambi dan Polda Jambi.

Wilayah Sungai Bahar, Sebapo, Bayung Lincir, Bajubang, dan Mestong, kata Kapolsek, merupakan daerah rawan. Ia menghimbau pada masyarakat untuk memperketat penjagaan desa lewat poskamling.
“ Kalau yang jaga ramai, orang pun akan mikir-mikir kalau mau melakukan kejahatan,” katanya.

Pla/Sat

Korban | Perampokan | di | Sungai |

Copyright @2015