Sabtu, 12 Mei 2018 17:22 WIB

UPDATE! Begini Kondisi Terkini Puncak Gunung Merapi Yang Meletus

 UPDATE! Begini Kondisi Terkini Puncak Gunung Merapi Yang Meletus
Kondisi terkini puncak Gunung Merapi

SR28 JAMBI -- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTG) Kementerian ESDM pada pagi ini, Sabtu 12 Mei 2018 terus melakukan pemantauan terhadap kondisi Gunung Merapi. Dari hasil pantauan status Gunung Merapi masih dinyatakan normal.

Dikutip dari Twitter @BPPTKG, pada Sabtu 12 Mei 2018, pemantauan yang dilakukan sejak pukul 06.04 WIB di lima pos pantau terlihat visual Gunung Merapi berstatus Normal.

Pada pos pantau Jrakah, visual Gunung Merapi terlihat tampak, dengan suhu udara 18,2 derajat celcius, kelembaban 57 persen, tekanan udara 871,3 hpa, dan kecepatan angin 6,1 kilometer per jam ke arah barat.

Kemudian, hal serupa terlihat pada pos pantau Babadan, di mana visual Gunung Merapi tampak jelas, dengan suhu udara 16,4 derajat celcius, kelembaban 62 persen, tekanan udara 873,3 hpa dan angin perlahan ke arah barat.

Sedangkan pada pos pantau Kaliurang yang terlihat pada pukul 06.13 WIB, visual Gunung Merapi masih tampak, dengan suhu udara 19 derajat celcius, kelembaban 77 persen, tekanan udara 918,8 hpa dan kecepatan angin 2,5 kilometer per jam ke tenggara.

Lalu, wajarkah Gunung Merapi meletus tiba-tiba tanpa pertanda terlebih dulu?

Gunung Merapi mengeluarkan letusan freatik pada Jumat (11/05/2018) pagi.

Letusan freatik sendiri menunjukkan adanya pemanasan air di bawah permukaan.

Air ini kemudian menjadi uap yang membuat tekanan dan volume uap di dalam gunung meningkat dan menyebabkan letusan yang berupa asap putih.

Meski begitu, letusan ini tak diperkirakan oleh banyak warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Alasannya adalah tidak ada tanda-tanda erupsi seperti gempa vulkanik yang mendahului fenomena ini.

Ini menjadi tanda tanya besar bagi sebagian masyarakat. Apakah memang lazim letusan freatik Gunung Merapi meski tanpa gempa vulkanik pendahulunya?

Menurut Wiwit Suryanto, ahli geofisika dari Universitas Gadjah Mada (UGM) fenomena letusan freatik tanpa ada tanda-tanda sebelumnya pada gunung berapi merupakan hal yang lazim.

Itu karena hingga saat ini, letusan freatik pada gunung api masih sulit diidentifikasi tanda-tandanya.

"Ini berbeda dengan erupsi karena adanya pelepasan magma dari dalam gunung api, tanda-tanda fisikanya terlihat jelas, misal dengan kenaikan jumlah gempa vulkanik, deformasi (perubahan bentuk tubuh gunung), kandungan gas dan sebagainya," ungkap Wiwit.

Wiwit juga mengatakan, saat ini upaya mendeteksi tanda-tanda letusan freatik sedang dilakukan oleh para ahli gunung api.

Menyoal letusan freatik sendiri, menurut Wiwit, ini sebenarnya adalah salah satu tipe erupsi gunung api.

Lalu apa alasan Sultan Yogya tidak menetapkan Status Siaga pada letusan Gunung Merapi?

Meski asap tebal dari abu vulkanik Merapi menyelimuti Kota Yogyakarta setinggi 5,5 kilometer, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono tidak menetapkan status siaga darurat. 

Karena memang, menurut Sri Sultan, tidak ada informasi maupun kajian dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang menyebutkan situasi darurat di Gunung Merapi ini.

"Semoga saja tidak keluar (letusan) lagi," kata Sri Sultan Hamengku Buwono di Kantor Kepatihan, Jumat (11/5/2018). 

Sri Sultan menambahkan, masyarakat Yogyakarta sudah berpengalaman menghadapi dampak letusan freatik dari Gunung Merapi yang sempat memunculkan hujan abu tipis di daerah itu. 

Terkait dampak hujan abu tipis yang sempat terjadi hingga ke Kota Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono berharap agar masyarakat berhati-hati saat membersihkan abu.

Source: Dari berbagai sumber

UPDATE! | Begini | Kondisi | Terkini |

Copyright @2015