Selasa, 05 Juni 2018 00:36 WIB

Ini Kesaksian Sang Ibu Atas Tewasnya Razan Al Najjar Yang Ditembak Tentara Israel

 Ini Kesaksian Sang Ibu Atas Tewasnya Razan Al Najjar yang Ditembak Tentara Israel
Razan Al Najjar saat bertugas sebagai paramedis

SR28JAMBINEWS.COM -- Ibunda Razan Al Najjar, Sabreen mengungkap fakta baru mengenai kematian putrinya pada 1 Juni 2018 lalu. Sabreen pun meyakini bahwa sang putri memang sengaja ditembak oleh pasukan Israel.

"Mereka (pasukan Israel) tahu Najjar. Mereka tahu dia adalah paramedis yang bertugas sejak 30 Maret," ungkapnya.

"Peluru itu bukan peluru acak. Israel memang menargetkan Najjar dan itu peluru ledak langsung ditembak ke dadanya, itu ulah para penembak jitu Israel," ujar Sabreen.

Terungkap pula bahwa sebelumnya, Najjar mungkin telah membuat geram para pasukan Israel.

Dua minggu sebelum kematian Najjar, seorang petugas medis bernama Mousa Abu Hassanein juga ditembak mati oleh militer Israel.

Kematian Mousa menyisakan duka yang mendalam serta kemarahan dari para sukarelawan medis di jalur Gaza, termasuk Najjar.

Namun Najjar bukan tipe orang yang hanya diam, dia justru melakukan wawancara yang dipublikasikan ke media sosial.

Ini salah satu sikap yang menarik perhatian Israel pada dirinya.

serangan oleh pasukan Israel, termasuk paramedis dan wartawan yang menjadi sasaran. Padahal seharusnya mereka dilindungi,"

"Saya ingin seluruh dunia melihat, mengapa pasukan Israel menargetkan kami yang hanya paramedis ini? Kami bahkan tidak melawan, tidak menyerang dan tidak melakukan apapun yang membahayakan. Kami hanya menyelamatkan orang yang terluka, mencoba menyembuhkan luka mereka," 
"Jadi, tolong jawab kenapa mereka menargetkan kita juga?"

Keluarga dan rekan-rekan Najjar menduga bahwa ini merupakan salah satu alasan kuat kenapa sniper Israel menargetkan Najjar.

Seorang paramedis Gaza, Razan al Najjar ditembak oleh pasukan militer Israel tepat di dadanya pada 1 Juni 2018.

Saat itu, Najjar masih menggunakan rompi paramedis, tak bersenjata, tak melakukan ancaman apapun dan hanya sibuk menolong para demonstran yang terluka.

Ribuan orang menghadiri pemakamannya, termasuk rekan-rekannya dari paramedis Gaza yang lain.

Ayah dan ibu Najjar membawa seragam medis berlumuran darah yang dia kenakan saat tertembak.

"Dia sering pulang dengan pakaian putih yang berubah jadi merah. Itu darah para korban yang dia tolong hari itu. Tapi merah kali ini adalah darahnya sendiri,"  kata Ashraf, ayah Najjar.

Source: Serambi Indonesia

 

Ini | Kesaksian | Sang | Ibu |

Copyright @2015