Senin, 04 Pebruari 2019 11:24 WIB

Plt Gubernur Bersama Menteri Pertanian Bahas Soal Penguatan Harga Karet Dan Pangan

 Plt Gubernur bersama Menteri Pertanian Bahas Soal Penguatan Harga Karet dan Pangan
Plt Gubernur Jambi di Kementerian Pertanian

JAKARTA (SR28) - Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan, bahwa pengadaan bibit unggul untuk petani, penyerapan hasil panen seperti jagung, termasuk melakukan cluster komoditi menjadi penekanan, guna meningkatkan kemampuan petani dalam ketersedian bahan pangan.

“Beberapa komoditi itu, bisa diperkuat dengan bibit unggul serta penyerapan hasil panen jagung, termasuk permasalahan harga karet ini sangat penting untuk ditingkatkan,” ujar Menteri Pertanian.

Masalah ini diungkapkan Menteri Pertanian dalam rapat pimpinan, dihadiri Plt Gubernur Jambi, H.Fachrori Umar, Gubernur Kalsel, Gubernur Sumsel, serta pejabat kementerian di gedung A Kementerian Pertanian RI Jakarta, Senin (4/2/2019).

“Sektor pertanian memiliki peran penting dalam perekonomian Provinsi Jambi. Karena sektor pertanian, termasuk kehutanan dan perikanan pada tahun lalu, merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar mencapai hampir 30 persen terhadap total PDRB Provinsi Jambi,” ungkap Plt. Gubernur Jambi.

Semenatara belum optimalnya komoditi yang dihasilkan di Provinsi Jambi dalam menghasilkan nilai tambah, dikarenakan belum berjalannya proses hilirisasi industri komoditi karet, kelapa sawit, maupun batu bara.

“Belum banyak investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya, dalam membangun industri hilir dari komoditi tersebut, meskipun Pemprov Jambi sudah mengeluarkan Perda No.10 Tahun 2012, tentang Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal,” terang H.Fachrori Umar.

Menurut Fachrori, harga karet ditingkat petani sejak tahun 2012 cenderung stagnan. Sebetulnya selama ini Pemprov Jambi melakukan sosialisasi pembuatan bokar bersih, pembentukan kelembagaan Unit Pengelola Pemasaran Bokar (UPPB) dan sampai saat ini sudah ada 56 UPPB di Jambi.

Upaya lainnya yang dilakukan, memfasilitasi petani menjual bokar langsung ke pihak pabrik crum rubber. Saat ini di Jambi ada 11 crumb rubber. Pemerintah juga sudah menyusun Ranperda tentang tata niaga komoditas perkebunan, serta melakukan uji terap aspal karet.

“Tahun ini Pemprov Jambi merencanakan kegiatan uji terap aspal karet, bekerjasama dengan Litbang Kementerian PUPR RI,” kata Fachrori Umar.

Dalam rapat itu terdapat beberapa hal penting yang muncul terkait pengembangan dan peningkatan nilai karet yang dapat menguntungkan bagi petani. Kementerian Pertanian mengusulkan penghapusan pajak PPn 10% terhadap bahan olah karet rakyat (bokar).

Disamping meningkatkan penyerapan dan pemanfaatan karet hasil petani, untuk campuran aspal jalan, percepatan replanting, bantuan bibit karet unggul, sertifikat, pupuk dan sarana produksi lainnya, agar mampu mendorong petani karet menjadi anggota Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) yang dibina Dinas Perkebunan dan industri karet remah.

Menurut Mentan, mempersyaratkan investasi industri karet remah baru minimal 20% bahan baku dipenuhi dari kebun sendiri untuk menjaga keseimbangan pasokan bahan baku serta melakukan diplomasi karet dengan para Menteri yang menangani kebijakan perdagangan karet Malaysia dan Thailand, dalam forum International Tripartite Rubber Council.

Isu lain yang berkaitan dengan pangan, dipaparkan Fachrori Umar dalam rapat, yaitu melalui percepatan penyusunan Perda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di setiap kabupaten/kota.

Hingga tahun 2018, ada tiga Kabupaten yang sudah memiliki Perda Perlindungan LP2B, yaitu Kabupaten Tanjab Timur, Batanghari dan Tanjab Barat. Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci dalam proses di DPRD Kab/Kota, diharapkan Tahun 2020 minimal 8 Kab/Kota sudah menetapkan Perda Perlindungan LP2B.

Untuk konsumsi pangan penduduk Provinsi Jambi secara bertahap terus mengalami perbaikan, hal ini terlihat dari diversifikasi pangan, yang ditandai dengan meningkatnya Skor Pola Pangan Harapan atau PPH dari 85,2 tahun 2017, menjadi 85,9 pada tahun 2018. Sedangkan konsumsi beras, pada kurun waktu yang sama mengalami penurunan dari 92 kg/kapita/tahun menjadi 84,4 kg/kapita/tahun.

Peningkatan produksi jagung juga diupayakan dengan penambahan luas tanam dan tuas panen, serta peningkatan produktivitas jagung, untuk memberikan kontribusi dalam penekanan import jagung, peningkatan produksi hortikultura ditempuh melalui penguatan kawasan hortikultura strategis baik secara potensi indikasi geografis kawasan daerah maupun kawasan nasional dalam meningkatkan produksi hortikultura untuk menekan inflasi.

Pemprov Jambi juga melakukan optimalisasi pemanfaatan alsintan pra panen, panen dan pasca panen dalam rangka peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan penurunan kehilangan hasil yang memberikan dampak terhadap peningkatan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) serta upaya lainnya yaitu melakukan sosialisasi tentang pemanfaatan pemanfaatan lahan tidur, terutama lahan rawa, Jambi memiliki potensi lahan rawa yang besar.

Beberapa isu sektor pertanian di Jambi, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap program pembangunan yang telah dicanangkan Kementerian Pertanian.

Provinsi Jambi memiliki luas wilayah 53.435 km2, secara administratif terdiri dari 9 kabupaten, 2 kota, 135 kecamatan dan 1.558 desa/kelurahan. Sedangkan jumlah penduduk mencapai 3,4 juta jiwa, dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 2,3% setahun.

Tingkat Perekonomian Jambi pada 2018, tumbuh sebesar 4,99%, meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2017 yang hanya tercatat 4,64%. Peningkatan ini karena ada perbaikan kinerja sektor pertambangan dan penggalian.

Semenatara membaiknya kinerja sektor konstruksi, karena didukung investasi swasta berupa pembangunan beberapa hotel dan perumahan di Provinsi Jambi. 

Reporter: Humas Pemprov Jambi
Editor: Agus Solihin Abar

Plt | Gubernur | bersama | Menteri |

Copyright @2015